Berita DeputiDeputi 4

Wakanda: Pemanfaatan Hutan Lindung secara Lestari

Dibaca: 61 Oleh Selasa, 28 September 2021Tidak ada komentar
WhatsApp Image 2021 09 29 at 05.53.55
#Maritim #Kemaritiman #PorosMaritimDunia #SahabatMaritim 

SIARAN PERS

No.SP-618/HUM/ROKOM/SET.MARVES/IX/2021

Marves – Payakumbuh, Fungsi pokok hutan terbagi menjadi tiga, yaitu hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi. Untuk mendapatkan hasil dan jasa lingkungan kehutanan secara optimal dan lestari bagi masyarakat, hutan harus dimanfaatkan dengan pengelolaan yang baik. Ada beberapa klasifikasi pemanfaatan hutan diantaranya melalui pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan, pemanfaatan hasil hutan kayu dan non kayu, pemungutan hasil hutan kayu dan non kayu.

Pemanfaatan hutanpun harus dilakukan di area sesuai peruntukan kawasan. Misalnya hutan konservasi dapat dimanfaatkan, kecuali pada cagar alam, zona rimba dan zona inti, hutan lindung kecuali pada blok perlindungan dan hutan produksi. Pemanfaatan hutan harus dikendalikan agar manfaatnya berkelanjutan dan kelestariannya tetap terjaga.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) melalui Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan mendukung pemanfaatan dan pelestarian hutan khususnya pengelolaan hutan berbasis komunitas. Hal ini penting karena pemanfaatan hutan yang baik memerlukan kemitraan dari masyarakat. “Masyarakat terdampak secara langsung, baik berupa manfaat bila dikelola dengan baik, atau bencana bila tidak dikelola dengan baik,” tutur Plt Asisten Deputi Pengelolaan Produk Kehutanan dan Jasa Lingkungan Zainudin dalam kunjungannya ke obyek Wisata Alam Kapalo Banda (Wakanda) Taram, Sumatera Barat (25/9/2021).

Baca juga:  Belum Berhasil Jalankan Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik, Pemda Dituntut Ambil Langkah Taktis dan Berani

Wisata Alam Wakanda Taram ini merupakan bagian dari kawasan hutan lindung Nagari Taram. Hutan lindung ini memiliki luas 800 Ha. Areal hutan lindung yang dipakai sebagai wisata alam 80 ha di dalam kawasan dan 100 ha di luar kawasan. Sumatera Barat memiliki program pengelolaan hutan berbasis masyarakat untuk mengejar target rekognisi area sekitar 500.000 Ha selama 5 tahun. “Target ini merupakan target pengelolaan hutan oleh masyarakat yang terluas di Indonesia,” dijelaskan oleh Kepala UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Limapuluh Koto Sayogo Hutomo saat mendampingi kunjungan kerja tim Kemenko Marves.

Wisata alam ini merupakan kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat yang kian bersinar. Wakanda Taram yang dulu hanya menjadi danau irigasi perkebunan, telah dikelola hingga menjadi obyek wisata alam yang menjanjikan. Sebagai pengembangan wisata berbasis komunitas, Obyek Wisata Wakanda taram telah memiliki berbagai prestasi. Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Kapalo Banda Taram Sebagai POKDARWIS Terbaik Tingkat Provinsi Sumatera Barat dari GIPI AWARD 2020. Termasuk salah satu 244 Desa Wisata di Indonesia sampai tahun 2024 masuk Program Pendampingan dan Penyaluran bantuan dari Kementerian Pariwisata, juga masuk Anugerah 100 Desa Wisata Terbaik se-Indonesia.

Baca juga:  Bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Menko Luhut Bahas Persiapan Meeting IMF-WB

Ada banyak kegiatan wisata yang ditawarkan di Wakanda. Dari kegiatan memacu adrenalin dengan mendaki air terjun tujuh tingkat. Selain wisata yang cukup ekstrem tadi, masih ada wisata susur sungai, paket-paket glamping untuk wisatawan yang ingin bermalam hingga santapan-santapan lezat dari hasil kebun sekitar hutan lindung.

Hutan pinus Wakanda juga pernah menjadi lokasi shooting film Buya Hamka, seorang tokoh nasional yang berasal dari Sumatera Barat. Produk-produk lain dari Hutan Nagari Taram adalah produk jamur tiram dan minyak aromaterapi alami dari sereh wangi. Sementara limbah kayu dari pohon yang tumbang secara alami diolah menjadi beragam souvenir khas Wakanda.

Masalah Sampah

Meskipun sarat prestasi dan kunjungan wisatawan yang terus meningkat, pengelolaan wisata alam ini memerlukan bantuan, khususnya terkait pengelolaan sampah. Pegiat wisata alam Wakanda Yahdi menjelaskan pihaknya telah mengedukasi pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Meskipun demikian, Wakanda memerlukan lebih banyak tempat sampah sementara dan kendaraan untuk mengangkut sampah ke TPA. Yahdi juga menjelaskan bahwa pihaknya masih kesulitan untuk mengangkut sampah keluar dari Wakanda. “Kami memilah sampah, tentunya diperlukan penampungan dan angkutan yang memadai, dengan kondisi kami saat ini, apalagi kami baru buka kembali, kami agak kesulitan” tuturnya. Plt Asdep Zainudin menjelaskan bahwa issue pengelolaan sampah akan dikoordinasikan dengan Asdep yang khusus menangani sampah dan limbah.

Baca juga:  Sampah Laut Lintas Batas Menjadi Masalah Yang Mendesak Untuk Segera Ditangani

Mengakhiri kunjungannya, Plt Asdep Zainudin mengapresiasi pengelolaan wisata alam Wakanda, “Sumatera Barat telah memiliki arah kebijakan yang paten dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat,”.

Menurut Zainudin, aktivitas pemanfaatan kehutanan berbasis masyarakat akan meningkatkan tanggung jawab masyarakat sebagai pengelola, memberikan manfaat secara langsung, dan memberikan jaminan pengelolaan hutan berkesinambungan. “Sumatera Barat dengan pengelolaan hutan desa berbasis hutan nagari ini bisa menjadi model pengelolaan pemanfaatan sumber daya hutan berbasis kearifan lokal,” pungkasnya.

Biro Komunikasi
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel