Pemerintah Tegaskan Forum AIS Merupakan Wadah Kerja Sama Konkret, Bukan Sekadar Forum Dialog

Pemerintah Tegaskan Forum AIS Merupakan Wadah Kerja Sama Konkret, Bukan Sekadar Forum Dialog

Marves - Bali, Setelah sukses menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama G20, di bulan Desember ini Indonesia kembali menjadi tuan rumah hajatan penting kerja sama global. Selama dua hari, Kawasan Nusa Dua di Pulau Dewata Bali akan kedatangan pejabat-pejabat penting negara sahabat yang hadir dalam Pertemuan Keempat Tingkat Menteri Forum Negara Pulau dan Kepulauan (Archipelagic and Island States Forum – AIS Forum). Dalam menyelenggarakan hajatan penting ini, Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan UNDP Indonesia dan Sekretariat AIS Forum.

AIS Forum yang didirikan melalui Deklarasi Manado pada 2018 adalah sarana komunikasi global yang mewadahi berbagai aksi kerja sama konkret dalam kegiatan pembangunan. Forum kolaborasi internasional ini melibatkan 47 negara pulau dan kepulauan dari seluruh dunia. Negara partisipan AIS Forum telah bersepakat untuk menjalin kerja sama dalam empat isu pembangunan yang menjadi perhatian bersama, yaitu: i) mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan pengelolaan bencana, ii) pembangunan ekonomi biru, iii) penanganan sampah plastik di laut, dan iv) pengelolaan maritim yang baik.

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa AIS Forum merupakan wadah kerja sama nyata untuk saling membantu dalam berbagai kegiatan pembangunan, bukan sekedar tempat berkumpul untuk diskusi semata. Hal tersebut disampaikan Plt. Asisten Deputi Delimitasi Zona Maritim dan Kawasan Perbatasan Kemenko Marves, Sora Lokita, pada kesempatan media briefing (Minggu, 04-12-2022) menjelang rangkaian pertemuan yang akan di selenggarakan tanggal 5-6 Desember besok. 

“Forum ini merupakan wadah komunikasi untuk mewujudkan berbagai kerja sama konkret, bukan sekedar political discussion. Dalam empat tahun terakhir ini, berbagai kerja sama nyata terus berkembang dengan baik, sehingga negara-negara pulau dan kepulauan merasa ‘nyaman’ dengan AIS Forum. Salah satu indikatornya adalah meskipun terkendala pandemi Covid-19 selama dua tahun, hingga pertemuan rutin tahun 2020 terpaksa diadakan secara virtual dan tahun 2021 ditiadakan, pada saat kita undang untuk bertatap muka tahun ini mereka menyambut baik dan berkenan hadir secara langsung. Untuk pertemuan besok, perwakilan dari 21 negara pulau dan kepulauan serta 2 organisasi internasional sudah konfirmasi akan hadir. Tingkat partisipasinya sungguh signifikan. Mereka meluangkan waktu untuk jauh-jauh datang ke Indonesia di tengah kesibukan mereka. Ini indikasi bahwa negara-negara mitra merasa nyaman dengan kerja sama ini,” kata Plt. Asdep Lokita.

Pada kesempatan terpisah, perwakilan Sekretariat Forum AIS, Dr. Abdul Wahib Situmorang, memaparkan banyaknya kerja sama yang telah dilakukan dalam kerangka AIS Forum. Diwawancarai di sela-sela kesibukan persiapan pertemuan besok pagi, Dr. Situmorang menjelaskan, “Selama dua tahun terakhir, berbagai program kerja sama Forum AIS tetap berjalan, walaupun terkendala oleh kondisi pandemi Covid-19. Melaksanakan mandat dari negara partisipan AIS Forum, kami memfasilitasi terlaksananya program kerja sama pembangunan di 31 negara. Selama dua tahun ini, program kami berfokus pada tiga lini: menumbuhkan kewirausahaan, memberi dukungan terhadap inovator serta aktivitas penelitian dan pengembangan, serta mendorong solusi cerdas dan inovatif dari masyarakat kepulauan.”

“Sebagai salah satu contoh hasil nyata, program kerja sama Forum AIS berjudul Ending Plastic Pollution Innovation Challenge (EPPIC) bertujuan melindungi lingkungan laut dari ancaman sampah plastik yang semakin parah. Setiap bulannya, program EPPIC berhasil mencegah 200 juta artikel sampah plastik masuk ke laut, serta menggantikan 125 ribu wadah makanan plastik dengan alternatif yang lebih ramah lingkungan.” Sebagai informasi tambahan, Sekretariat Forum AIS telah didirikan dan berkantor di Jalan MH Thamrin, Menteng, Jakarta sejak 2019 lalu dengan dukungan dari pemerintah Indonesia.

Plt. Asdep Lokita menyatakan bahwa penyelenggaraan pertemuan ini sebagai bentuk peran aktif Indonesia dalam mendorong kerja sama konkret antarnegara di dunia. “(Pertemuan ini) tentunya menjadi contoh yang bagus bagaimana kita mengajak (negara pulau dan kepulauan) sama-sama belajar dan saling membantu satu sama lain,” ujarnya. Dengan berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keahlian, masyarakat di negara pulau dan kepulauan bisa memecahkan berbagai persoalan pembangunan yang dihadapi dengan lebih efektif dan efisien.


Sekalipun Indonesia banyak mengambil peran dalam perkembangan Forum AIS, dirinya menegaskan bahwa Forum ini bukan milik Indonesia, melainkan bersifat terbuka dan inklusif. Plt. Asdep Lokita menyampaikan rencana mengajak pemangku kepentingan lain menjadi Friends of AIS Forum, di mana pihak-pihak di luar negara pulau dan kepulauan bisa turut mendukung serta mendapatkan manfaat dari keberadaan forum ini. “Kita most welcome,” ucapnya. Sebagai salah satu keunikannya, Forum AIS merangkul semua negara pulau dan kepulauan di seluruh dunia, tanpa terbatas lokasi geografis, ukuran, maupun tingkat perekonomian.

Menambahkan keterangan dari Plt. Asdep Lokita, Kepala Biro Komunikasi (KaroKom) Kemenko Marves, Andreas Dipi Patria, mengatakan keterlibatan Indonesia dalam AIS Forum juga menjadi contoh baik peran Indonesia di ranah internasional. “Sebelumnya telah dilaksanakan KTT G20 pada November kemarin. Bulan ini AIS Forum. Tahun depan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Indonesia, serta beberapa event lainnya. Ini menegaskan keterlibatan aktif Indonesia di ranah internasional,” ungkap KaroKom Andreas.

Pemerintah berharap Indonesia dapat terus berkontribusi di Forum AIS untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara yang memiliki karakteristik dan model pembangunan yang serupa dengan Indonesia. Hal ini bukan untuk mendominasi, namun bertujuan turut berkontribusi pada ketertiban dunia. “Keterlibatan di AIS Forum ini menunjukkan kemampuan Indonesia menempatkan diri pada tata kelola dunia, bukan hanya (pada persoalan-persoalan di) daratan, namun sekaligus (aspek) kepulauannya. Mudah-mudahan melalui keterlibatan (dalam) forum ini, dapat mencerminkan bahwa kita (Indonesia) berkontribusi secara internasional. Indonesia harus menjadi role model dalam memberi perhatian terhadap berbagai aspek, khususnya kelautan,” jelasnya.

Indonesia sendiri berharap AIS Forum terus mempertahankan aspek kebersamaan dan keselaraan antara negara-negara pulau dan kepulauan. Terdapat harapan agar negara-negara partisipan memiliki semangat yang sama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir dan bergantung pada lautan. “Inilah yang ingin kita kedepankan pada pertemuan besok. Besar harapan agar forum ini semakin berkualitas dan memberikan manfaat lebih besar pada komunitas internasional. Selain itu, kita juga berharap masyarakat Indonesia semakin menyadari makna dan peran penting Indonesia di dunia sebagai negara kepulauan,” pungkasnya.

No. SP-389/HUM/ROKOM/SET.MARVES/XII/2022

Biro Komunikasi

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi